SEMERUPOST, Mojokerto – Pengamat Politik Mojokerto Dr.Ahmad Hasan Afandi MSi, Menilai PILBUP Mojokerto 2024 adalah ajang pertarungan pengaruh KH. Asep Saifudin Chalim Dengan KH. Chusaeni Ilyas.
Komunikasi untuk merawat katong elektoral kedua kubu menjadi kunci kemenangan.
Saya lihat magnitonya bukan di calon, tapi antara Kiai Asep dan Kiai Chusaeni,” kata Hasan kepada wartawan, Jumat (30/8/2024).
Petahana Ikfina Fahmawati menggaet Sya’dulloh Syarofi yang merupakan putra Pengasuh Ponpes Salafiyah Al Misbar Kiai Chusaeni sebagai bakal calon wakil bupati pendampingnya.
Sementara Muhammad Albarraa atau Gus Barra sendiri adalah anak dari Kiyai Asep atau Putra dari Pengasuh PONPES Amanatul Ummah.
Dan pasangan nya dr. Muhammad Rizal Oktavian, putra mantan Bupati Mojokerto Achmady.
Dan Hasan menjelaskan, pasangan Ikfina-Gus Dulloh (Idola) maupun Gus Barra-dr Rizal (Mubarok) sama-sama punya kekuatan NU. Hanya saja Kiai Asep dan Kiai Chusaeni lah yang menjadi magnet para pemilih. Kedua kiai sama-sama punya pengikut militan.
Pengaruh Kiai Asep sangat Berpengaruh dengan pasangan MUBAROK, sebab itu kunci kemenangan PILBUP Mojomerto adalah merawat Kantong kolektoral yang sudah di bangun Oleh Kiai tersebut.
Tinggal di diskusikan siapa yang bisa merawat dialah yang mungkin Menang.
Pengaruh kedua kiai sangat besar secara kultural. Itu disambut komunikasi Gus Dulloh ke masyarakat yang mengena. Kalau Mas Rizal tidak bergerak, kantong-kantong elektoral hilang,” terangnya.
Keputusan Ikfina menggandeng Gus Dulloh menurut Hasan adalah keputusan politik yang sangat tepat. Wakil Ketua 2 Tanfidziyah PCNU Mojokerto yang juga Dewan Instruktur PW GP Ansor Jatim itu mampu berkomunikasi dengan masyarakat dari lapisan atas sampai bawah baik dengan komunitas kultural, keagamaan, maupun budaya.
Untuk mengimbanginya, Hasan mengatakan Gus Barra harus menekan dr Rizal untuk membangun komunikasi dengan kantong-kantong elektoral di bawah. Salah satunya memanfaatkan latar belakang akademis Rizal yang seorang dokter.
Terlebih lagi pengaruh sosok Achmady saat ini hanya pada komunitas tua. Sedangkan para calon pemilih pemiling suara di Pilbup Mojokerto nanti didominasi generasi Z.
“Kalau dia hanya mengandalkan sebagai putranya Pak Achmady, nantinya menjadi kecelakaan politik. Karena elektoral di bawah butuh sosok pemimpin yang mau komunikasi dengan masyarakat,” ujarnya.
“Beda dengan Kota Mojokerto. Kalau Gus Barra tidak memerankan Mas Rizal, selesai. Pasti tergerus kantong-kantong elektoral yang sudah dibangun Gus Barra dan Kiai Asep,” jelasnya.
Dari sisi finansial, kata Hasan, Ikfina dan Gus Barra sama-sama mempunyia modal.
Dan juga Pasangan IDOLA juga di terpa bayang-bayang kasus korupsi dari Suami Ikfina, Mustofa Kamal Pasa (MKP) menjadi terpidana kasus suap, gratifikasi dan TPPU.
isu korupsi bisa berdampak terhadap elektabilitas mereka.
Pasangan Idola dan Mubarok telah mendaftar ke KPU Kabupaten Mojokerto. Idola diusung 6 parpol. Empat parpol parlemen yakni PKB, Partai Golkar, PDIP dan PKS yang menguasai 25 atau 50% dari 50 kursi di DPRD Kabupaten Mojokerto periode 2024-2029. Sedangkan 2 parpol nonparlemen adalah PSI dan Partai Buruh.
Sedangkan pasangan Mubarok diusung 6 partai parlemen yang menguasai 25 atau 50% dari 50 kursi DPRD Kabupaten Mojokerto periode 2024-2029. Yaitu Partai NasDem, Partai Demokrat, PAN, PPP, Partai Gerindra dan Perindo. Tidak hanya itu, mereka juga diusung 6 partai nonparlemen, yaitu Partai Hanura, PBB, PKN, Partai Gelora, Partai Ummat dan Partai Garuda.
Dilansir Dari SemeruPost. (IK)
















