Pessel, SemeruPost – Jembatan Gantung Luhung – Muaro Pasar Baru di Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat merupakan jembatan yang telah ditutup total sejak Maret 2023 akibat kerusakan berat, dan hingga pertengahan 2026, realisasi pembangunan ulang masih menemui jalan buntu akibat kendala fiskal daerah.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Jaferi, S.T., M.T., saat diwawancarai awak media ini di ruang kerjanya, Senin (11/05/2026), menjelaskan bahwa pemerintah daerah sebenarnya sempat berencana melakukan perbaikan pada tahun 2025. Bahkan, anggaran awal senilai kurang lebih Rp1 miliar sempat disiapkan.
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan sebenarnya telah menempatkan perbaikan jembatan sepanjang 180 meter dengan lebar 2,4 meter ini sebagai salah satu prioritas. “Namun, harapan masyarakat untuk menikmati jembatan baru pada tahun 2025 harus pupus, lantaran anggaran yang disiapkan harus dialihkan akibat kondisi keuangan daerah yang terganggu, terutama pascabencana banjir besar yang melanda wilayah Pesisir Selatan,” terang Jaferi.
Jaferi menambahkan, setelah dilakukan kajian teknis, dana tersebut dinilai sangat tidak memadai. Kerusakan jembatan yang dibangun bertahun-tahun lalu itu sudah sangat menyeluruh, hampir seluruh bagian konstruksi—terutama bagian atas—sudah tidak layak dan membahayakan keselamatan pengguna.
“Hanya fondasi yang bisa digunakan kembali, selebihnya harus dibongkar total. Pembangunan ulang permanen jembatan Luhung ini diperkirakan membutuhkan biaya hingga Rp5 miliar hingga Rp7,5 miliar. Anggaran awal yang ada tidak cukup untuk melakukan renovasi total tersebut,” ujar Jaferi dalam keterangannya.
Situasi semakin sulit ketika Pesisir Selatan dilanda bencana alam. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang terbatas dipaksa untuk memprioritaskan penanganan darurat bencana.
Dana yang sempat direncanakan untuk perbaikan infrastruktur, termasuk Jembatan Luhung, akhirnya dialihkan ke penanganan dampak bencana yang lebih mendesak. “Anggaran yang dikembalikan ke daerah itu sudah ada peruntukannya untuk penanganan bencana alam, sehingga tidak bisa dialihkan kembali ke jembatan,” ungkap Jaferi.
Meskipun belum terealisasi pada 2025. Ia menegaskan Pemkab Pesisir Selatan tidak akan mengabaikan jembatan tersebut. Pembangunan kembali Jembatan Gantung Luhung di Nagari Pasar Baru, Kecamatan Bayang, tetap menjadi salah satu agenda prioritas pembangunan infrastruktur daerah.
“Kami paham kebutuhan masyarakat di daerah tersebut. Ini sangat vital. Namun, karena keterbatasan keuangan daerah, kami harus mengatur skala prioritas. Kami pastikan jembatan Luhung tetap menjadi prioritas.
Meski belum dapat direalisasikan pada tahun berjalan akibat keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), pemerintah daerah terus memperjuangkan dukungan anggaran, baik dari provinsi maupun pusat, guna menuntaskan akses vital yang sudah dua tahun tertutup tersebut,” kata Jaferi.
“Kami bersama Bupati dan Wakil Bupati terus mengupayakan dukungan anggaran ke Kementerian PU agar pembangunan jembatan tersebut dapat segera direalisasikan. Kami memastikan, Jembatan Luhung adalah prioritas.
Menyikapi keterbatasan anggaran daerah, Pemkab Pessel tidak tinggal diam. Saat ini, pemerintah daerah tengah mematangkan dokumen readiness criteria sebagai syarat mutlak pengajuan hibah infrastruktur nasional.
“Kami berharap warga bersabar. Pemerintah daerah sudah komitmen penuh. Kami paham ini menyulitkan,” tutup Jaferi. (*)
















