AiRadio Jogja

Radionya Kaula Muda Indonesia

Mantan OPM dan Dosen Beri Pengakuan Mengejutkan Soal Papua

Kamis, 1 Juli 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan aktivis Organisasi Papua Merdeka, John Norotouw dan dosen Universitas Negeri Medan, Dr. Rosmaida Sinaga berikan pandangan dan kesaksian (Foto Ilustrasi/Bali Express)

Mantan aktivis Organisasi Papua Merdeka, John Norotouw dan dosen Universitas Negeri Medan, Dr. Rosmaida Sinaga berikan pandangan dan kesaksian (Foto Ilustrasi/Bali Express)

Papua, SemeruPost – Sudah puluhan tahun konflik terjadi di Papua. Tentu ada penyebabnya dan apa jalan keluarnya. Mantan aktivis Organisasi Papua Merdeka (OPM) John Norotouw dan dosen Universitas Negeri Medan (UNM) Dr. Rosmaida Sinaga memberikan pandangan dan kesaksian dalam hal ini.

John Norotouw menerangkan konflik ini terjadi karena peninggalan Belanda terhadap warga Papua. Belanda memberikan konsep kepada masyarakat Papua untuk merdeka dan menguasainya. Sehingga terjadi kelompok tertentu ingin merdeka karena janji Belanda.

“Negara Papua, itu tidak ada. Inilah yang terjadi selama 58 tahun terus menerus konflik dengan pemerintah. Negara boneka suatu yang tidak benar. Padahal itu konspirasi Belanda,” kata Jhon saat webinar dengan tema “Perdamaian dan Kedamaian di Papua”, Kamis (1/7).

Dia mengatakan bahwa Tanah Papua 100 persen masuk ke dalam pangkuan Indonesia. Hal itu diakui Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bahkan kedaulatan Papua sudah final.

Lebih lanjut dia menguraikan tanah Papua lebih aman dan lebih Indonesia. Di mana, di Papua terdapat orang Papua dan orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

“Masyarakat Papua sedang membangun perdamaian. Apa lagi membangun negara, belum ada pengalaman. Papua tidak akan Merdeka. Papua sedang bangun sendiri kearifan lokalnya,” tutur dia.

Sementara itu, Rosmaida Sinaga menyatakan kondisi Papua sangat berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Sehingga dalam hal pembangunan mendapatkan perhatian lebih dari Pemerintah.

Khususnya dalam hal pendidikan, perlu adanya pembenahan agar Papua ke depan menjadi lebih baik. Dia mengaku sudah 25 tahun mengajar di Papua dari 1992. Pada waktu itu tidak ada SD Inpres yang sebagus dengan yang ada di Pulau Jawa. “Pertanyaannya apa yang salah dengan kebijakan Papua?” kata dia.

Dirinya mengisahkan, menjadi dosen di Universitas Cenderawasih, menjumpai guru yang di pedalaman masih menggunakan kurikulum yang lama. Padahal, seharusnya sudah memakai K-13.

Dirinya menilai masih dijumpai adanya fasilitas rendah yang rendah seperti adanya gangguan internet yang kerap terjadi. Di tambah lagi, para guru tidak punya jaringan internet bagaimana mereka mengajar.

Di pedalaman Papua, lanjutnya, masih ada dijumpai siswa yang tidak punya buku atau hanya punya satu buku tulis. Belum lagi, ada siswa yang harus berjalan berkilometer menuju sekolah. Sehingga, secara fisik lelah dan kurang fokus dalam belajar.

Dijumpai pula, ujar dia, mereka hampir tidak sekolah, karena gurunya tidak ada. Parahnya, ada satu guru di satu sekolah, kesejahteraan sangat kurang.

“Kalau kita lihat guru itu bukan karena keinginannya dan bukan panggilan jiwa. Mengapa mutu pendidikan di Papua rendah salah satunya karena bukan panggilan jiwa, dan ada yang hanya tinggalkan tugas. Apalagi, kalau perempuan kalau suami pindah dia ikut pindah,” lanjutnya.

Rosmaida mengungkapkan, metode pendidikan berasrama dinilai cukup membantu menghasilkan kualitas pendidikan. Pasalnya, anak-anak yang tempat tinggalnya jauh bisa belajar dengan baik di asrama. Sebagai tokoh nasional dari Papua juga berasal dari pendidikan asrama seperti Fredy Numberi dan lainnya.

Rosmaida berpandangan, jika pembangunan dan pendidikan diperbaiki, kesejahteraan di Papua akan naik. Pendidikan sampai ke jenjang lebih tinggi akan membuat Papua mampu bersaing dengan daerah lain. Dengan demikian ada kesetaraan antara rakyat Papua dan daerah lainnya.

“Apabila pendidikan diperbaiki mereka bersaing, bukan kalah saing tuntut keistimewaan,” ujarnya.

Dia juga berpendapat, Nasionalisme akan berkembang apabila mereka merasa bagian dari NKRI. Untuk itu, kebijakan perlu diperbaiki dengan meningkatkan kesejahteraan. (**)

Berita Terkait

Wujud Kepedulian Nyata: TNI Bantu Evakuasi dan Dampingi Keluarga Korban Penembakan OPM di Tembagapura
Satgas TMMD Tunjukkan Kepedulian dengan Evakuasi Warga Sakit
Quick Response TNI Pascaserangan Brutal OPM terhadap Warga Sipil di Camp Wini Kalikuluk MP 69
Prajurit Koops TNI Habema Serentak Berikan Pelayanan Kesehatan di Pelosok Papua
Lahan Program TMMD di Kampung Keakwa Siap Ditanami
Senyum Hangat Anak-anak Warnai Kebersamaan dengan Satgas TMMD ke-128 Kodim 1710/Mimika
Satgas TMMD Bantu dan Dampingi Petugas Kesehatan
Kabasarnas Beri Penghargaan Khusus untuk Lanud Sjamsudin Noor

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 15:45 WIB

Wujud Kepedulian Nyata: TNI Bantu Evakuasi dan Dampingi Keluarga Korban Penembakan OPM di Tembagapura

Sabtu, 9 Mei 2026 - 14:06 WIB

Satgas TMMD Tunjukkan Kepedulian dengan Evakuasi Warga Sakit

Sabtu, 9 Mei 2026 - 08:04 WIB

Quick Response TNI Pascaserangan Brutal OPM terhadap Warga Sipil di Camp Wini Kalikuluk MP 69

Jumat, 8 Mei 2026 - 23:05 WIB

Prajurit Koops TNI Habema Serentak Berikan Pelayanan Kesehatan di Pelosok Papua

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:29 WIB

Lahan Program TMMD di Kampung Keakwa Siap Ditanami

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:49 WIB

Satgas TMMD Bantu dan Dampingi Petugas Kesehatan

Selasa, 5 Mei 2026 - 20:51 WIB

Kabasarnas Beri Penghargaan Khusus untuk Lanud Sjamsudin Noor

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:08 WIB

Satgas TMMD Kodim 1710/Mimika Lakukan Pengecatan Triplek demi Hasil Maksimal

Berita Terbaru

Personel Satgas TMMD bersama warga sebelumnya bergotong royong mengolah dan meratakan lahan sebelum membuat bedengan sebagai media tanam

News

Lahan Program TMMD di Kampung Keakwa Siap Ditanami

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:29 WIB