AiRadio Jogja

Radionya Kaula Muda Indonesia

Pelabuhan Sapudi Akan Direplacement: Ketika Rakyat Kecil Dipinggirkan, Suara Mereka Tenggelam di Ombak Pembangunan

Senin, 17 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SemeruPost,SAPUDI – Rencana besar UPP Kelas III Sapudi untuk melakukan replacement dan pembangunan ulang Pelabuhan Sapudi dalam proyek multiyears 2025–2026 rupanya tidak disambut tepuk tangan. Sebaliknya, masyarakat yang selama ini menjadi penopang aktivitas pelabuhan justru menyambutnya dengan kegelisahan dan kemarahan.

Bagi para pejabat, proyek ini mungkin terdengar sebagai “peningkatan layanan transportasi laut”. Namun bagi kuli angkut, pemilik perahu rakyat, dan pedagang kecil, proyek ini terasa seperti ancaman yang perlahan mendekat untuk mematikan sumber nafkah mereka.

Kuli Pelabuhan: “Kami Hidup Dari Pelabuhan Ini, Jangan Diputus Sepihak”

Keluh kesah mulai terdengar dari para kuli bongkar muat di Pelabuhan Gayam. Mereka mengaku tak pernah diajak bicara, tak pernah diberi pemahaman, dan tak pernah dilibatkan dalam rencana yang akan mengguncang perut mereka sendiri.

Sunar, seorang kuli yang hampir separuh hidupnya dihabiskan di pelabuhan, tak mampu menahan kekesalannya.

> “Kami tidak diajak bicara sama sekali. Tahu tahu ada rencana replacement. Kalau nanti perahu tidak bisa sandar, kami ini makan apa?” katanya lirih namun tajam.

Yang membuat mereka makin resah, kabar bahwa desain bangunan berpotensi kembali “terlalu tinggi”, seperti yang pernah terjadi pada proyek tahun 2024.

Hasilnya? Perahu rakyat tak bisa bersandar, kuli tak bisa menggotong, dan bongkar muat lumpuh.

> “Kalau dermaga tinggi, angkut barang jadi mustahil. Badan kami bukan besi,” keluh Sunar.

“Ini Bukan Pembangunan, Ini Pemotongan Napas Kami”

Tak hanya kuli, pemilik perahu rakyat juga merasa seperti diabaikan. Mereka adalah tulang punggung distribusi ekonomi Sapudi mengangkut kebutuhan pokok, gas melon, bahan bangunan, hingga hasil bumi.

Andre, salah satu pemilik perahu, berbicara dengan nada kecewa bercampur marah.

> “Tahun 2024 sudah kejadian. Dermaga dibangun tinggi, perahu kami tidak bisa masuk. Sekarang mau diulang lagi? Untuk apa pelabuhan kalau rakyat tidak bisa pakai?”

Menurutnya, jika akses perahu terhalang, harga kebutuhan pokok hampir pasti naik. Situasi bisa kembali seperti “jaman 2010”, ketika barang harus dipindah dengan perahu kecil (tambengan) mahal, lama, dan berisiko.

> “Kalau harus pakai tambengan semua, ongkosnya naik. Harga kuli naik. Akhirnya harga jual barang juga ikut tinggi. Yang rugi rakyat kecil,” tegasnya.

Lebih jauh, Andre menyebut bahwa ada delapan perahu rakyat yang akan “dimatikan” fungsinya jika pelabuhan baru tidak memberi ruang sandar.

Andre menilai pemerintah salah prioritas. Pelabuhan Tarebung yang sudah “hampir tak layak pakai” justru tidak disentuh, padahal menjadi pelabuhan utama kapal feri.

> “Yang rusak dibiarkan. Yang masih bagus malah dibongkar. Logikanya di mana? Kalau benar mau bangun jangka panjang, pikirkan dulu Pelra dan mobilitas rakyat,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa perahu rakyat mampu menampung muatan setara empat truk, sebuah kapasitas vital yang tak bisa digantikan oleh kapal feri yang kerap bermasalah.

Ketika dimintai klarifikasi mengenai minimnya pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan, Plt. UPP Kelas III Sapudi, Bu Reni, memilih diam seribu bahasa. Pesan WhatsApp media ini sudah centang dua tanda pesan masuk namun tak mendapatkan jawaban.

Diamnya pejabat dalam isu yang menyangkut nasib ratusan warga tentu saja semakin memicu kecurigaan: apakah proyek ini dirancang untuk rakyat, atau sekadar untuk laporan pembangunan?

Proyek replacement pelabuhan ini memiliki pagu anggaran sekitar Rp76 miliar, bersumber dari Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Laut.

Angka besar yang seharusnya membawa harapan, justru berubah menjadi sumber kecemasan.

Warga Sapudi menuntut pemerintah membuka ruang dialog sebelum alat berat turun ke lokasi. Mereka ingin memastikan bahwa pelabuhan tidak hanya dibangun untuk terlihat megah, tetapi benar benar berpihak pada kebutuhan masyarakat.

“Kami bukan menolak pembangunan. Kami hanya meminta agar pembangunan tidak membunuh kami.” Slm

Berita Terkait

Lapas Slemam Gelar Penandatangan Perjanjian Kinerja Tahun 2026
Lapas Sleman Laksanakan Perjanjian Kinerja Tahun 2026 Kanwil Ditjenpas D.I.Y
Peringati Hari Ke-78 Logistik Polri,Polres Kediri Gelar “Sambung Roso”
Operasi Zebra Semeru 2025: Polres Kediri Tekankan Edukasi, 63.158 Pelanggaran Ditertibkan
Catatan 1 Dekade Program Tol Laut Pemerintah
Polres Kediri Gelar Tasyakuran HUT ke-80 Korps Brimob, Kenang Pengabdian dan Perkuat Kebersamaan
Dugaan Mafia Pengoplos Gas Subsidi di Rumpin: Kampung Jabon dan Pasir Jeruk Disebut Jadi Lokasi Operasi Terorganisir
Aksi Jilid II FML di Kejagung, Beri “Tolak Angin” dan Gelar Kerokan Massal Simbol Desakan Usut Hibah

Berita Terkait

Rabu, 7 Januari 2026 - 20:16 WIB

Lapas Slemam Gelar Penandatangan Perjanjian Kinerja Tahun 2026

Selasa, 6 Januari 2026 - 15:14 WIB

Lapas Sleman Laksanakan Perjanjian Kinerja Tahun 2026 Kanwil Ditjenpas D.I.Y

Rabu, 10 Desember 2025 - 20:10 WIB

Peringati Hari Ke-78 Logistik Polri,Polres Kediri Gelar “Sambung Roso”

Selasa, 2 Desember 2025 - 17:07 WIB

Operasi Zebra Semeru 2025: Polres Kediri Tekankan Edukasi, 63.158 Pelanggaran Ditertibkan

Selasa, 25 November 2025 - 13:21 WIB

Catatan 1 Dekade Program Tol Laut Pemerintah

Senin, 17 November 2025 - 17:41 WIB

Pelabuhan Sapudi Akan Direplacement: Ketika Rakyat Kecil Dipinggirkan, Suara Mereka Tenggelam di Ombak Pembangunan

Senin, 17 November 2025 - 14:02 WIB

Polres Kediri Gelar Tasyakuran HUT ke-80 Korps Brimob, Kenang Pengabdian dan Perkuat Kebersamaan

Minggu, 16 November 2025 - 17:39 WIB

Dugaan Mafia Pengoplos Gas Subsidi di Rumpin: Kampung Jabon dan Pasir Jeruk Disebut Jadi Lokasi Operasi Terorganisir

Berita Terbaru